• Home
  • Posts RSS
  • Comments RSS
  • Edit
Blue Orange Green Pink Purple

Merajut Mimpi Menuai Kebahagian

Alice mungkin hidup dalam waktu yang tak bisa dihentikan, ada Cinderella yang terus percaya bahwa hal baik membutuhkan sedikit waktu lebih lama, dihutan ada Belle yang selalu memiliki ketulusan hati, Mulan senantiasa mempercayai menjadi diri sendiri adalah kunci menjadi seorang wanita sejati, sedangakan Elsa bertekad untuk tidak lari lagi dari semua ketakutan. Dan disini ada Aku yang ingin mengubah dunia kecilku yang dingin.





- Nisa Safira Dwihastuti -

Jalan itu bersenandung sedu

              Manusia terkesan tidak peduli dengan apa yang ada disekitarnya. Berharap berrtanya apa gerangan kehidupan yang ingin mereka raih. Setajuk dan sejarut benang terputus takkala mereka berjalan, mendapati diri mereka jatuh jauh terlalu dalam ke dalam jurang ketidak tahuan dan ketidak pastiaan. Jalan kanan yang mereka ingin tempuh alih-alih menjadi sarana alasan saat mereka terlalu jauh melangkah kearah yang berlawaan. Berliku dan penuh kerikil kata mereka. Berharap cahaya cepat menghampiri mereka, memberikan keyakinan tentang masa depan yang pasti. Aku sendiri tidak begitu yakin tentang hal itu.

              Dunia tengah dalam krisis, usianya seolah mendekati uzur. Tidak ada satupun yang tahu kapan waktu itu akan tiba. Tapi sudah jelas, kita bisa melihat dengan sangat jelas tanda-tandanya. Beribu-ribu manusia hidup dan terus bertambah, sebanyak itupula mereka menghilang dalam satu ketika. Dunia sudah tidak berada di samping manusia lagi. Sekian ratus tahun atau bahkan ribuan tahun dunia telah berusaha hidup dan memberikan semua apa yang bias ia berikan, sekarang hanya menjadi alat pemuas kebutuhan manusia yang sering mereka sebut sebagai sumber daya kehidupan. Sungguh ironis. Manusia seolah menjadi buta dan kehilangan akalnya. Anak-anak cucu-cucu mereka berubah menjadi iblis penuh kebencian. Menaruh benih-benih kerusakan yang kita tak tahu harus berbuat apalagi. Menyedihkan. Itulah ironi kehidupan. Tapi, tapi, tapi… masih banyak ribuan dari sekian ribuan juta orang di dunia ini yang memiliki hati nurani. Yang mampu mendengar jeritan dunia, jeritan kesakitan dan peringatan yang ia sampaikan. Waktuku tidaklah lama lagi. Waktumu pun tidak lama lagi seperti halnya diriku.

              Kesedihan dan pilu terus menghantui seluruh isi alam. Bertanya mengapa, kami—manusia makhluk tercedas di bumi menjadi sangat tidak jauh berbeda dengan binantang. Aku, dan sebagian orang pun bertanya heran. Mengapa hal tersebut bisa terjadi. Tahun berganti tahun, generasi berganti generasi, perang demi perang terus berlanjut. Dari kakek-nenek buyut—buyut kami meneruskan darah peperangan kepada anak-anak cucu-cucu kami hingga seterusnya tidak ada yang tahu akan berakhir seperti apa.


              Sebagian dari mereka berkata , perang ini kami lakukan demi perdamaian tapi mereka malah menciptkan kerusakan dan ketidak amanan bahkan bagi kelompoknya sendiri. Perang ini kami lakukan demi keadilan anak-anak dan wanita tapi mereka membiarkan anak-anak dan wanita meninggal dalam keadaan mengerikan. Perang ini kami lakukan demi kesejahteraan masyarakat yang tertindas tapi mereka membiarkan orang tertidas semakin tertidas dan hilang dari muka bumi ini. Lalu demi apa mereka lakukan peperangan selain untuk menguasai sebagian dari milik bumi ini. Aneh bukan? Manusia saling menusuk tusuk dari segala arah demi kenikmataan yang hanya sesaat. Dimana jauh dihati mereka tahu bahwa dunia ini tidak lama lagi, tidak akan lama lagi. Seolah mengidahkan pernyataan tulus di hati kecil mereka, banyak hal baik yang bias dilakukan, mereka tidak perdulikan lagi. Itulah manusia, kawan.

              Apa yang membuatku sedih adalah bahwa kita lebih memilih ego dan nafsu hanya untuk memuaskan diri kita sendiri. Terkadang kita beralasan untuk kesenangan. Padahal berbagipun sama. Di saat bumi ini sudah tidak mampu memberikan optimal seperti dahulu kala. Kita harus berpikir, kawan. Mencari cara untuk memecahkan masalah kita terlebih dahulu, disini kawan. Di tempat yang sangat kecil dan sangat dekat dengan kita. Hati kita yang menjadi setir utama kehidupan di bumi ini. semua bermula dari perasaan keinginan yang perlahan menjadi menjadi keserakahan. Seandainya di dunia ini tidak ada ego, seandainya kita mampu mengukur ego setiap manusia dan mengontrolnya. Pasti manusia mampu hidup berdampingan dengan manusia lainnya dan dengan bumi ini. sedikit lagi, kawan. Kita mungkin tidak mempunyai kesempatan jika terus menerus dibiarkan seperti ini.

              Disaat kita merasa aman dan nyaman, jauh atau mungkin dekat dari kita berada ada yang merasa tidak seperti yang kita rasakan. Kita pasti tahu ada sebagian dari saudara kita yang sedang berjuang untuk hidup tapi jangan kita lupakan seseorang yang terus bersama leluhur kita hingga diri kita saat ini, bumi ini kawanku. Tuhan  Yang Maha Kuasa memberikan bumi ini kepada mahkluk tercedas di muka bumi ini bukan untuk merusak tapi untuk memeliharanya. Karena ada hari dimana, Tuhan akan mengambilnya dari kita. Mungkin pula Ia akan bertanya apa yang telah kita lakukan pada titipannya. Menyedihkan bukan jika saat itu kita tak mampu menjawabnya. Dibandingkan sedih , aku merasa takut. Takut akan tidak bisa menjawab pertanyan-Nya.


              Tidak perlu menjadi seorang pejabat atau bahkan seorang presiden untuk bisa mengubah dunia ini menjadia lebih baik. Cukup menjadi dirimu sendiri—menjadi diri kita pada hakikatnya. Manusia, bersikap selayaknya makhluk yang cerdas. Karena banyak yang bisa kita lakukan. Menolong bukan berarti kita melakukan perbuatan anarki untuk menolong yang lain. Ada banyak cara dan jalan untuk menjadi menolong yang lain. Mereka mungkin akan menjadi bahan ejekan hingga tak akan ada yang mau membantu kita untuk menolong mereka. Banyak jalan, kawan. Jika menuntut ilmu hingga ke roma, banyak jalan pula menuju ke roma. Dan tentu saja banyak cara untuk memperbaiki segalanya menjadi lebih baik dengan cara yang tidak merusak. Karena semua yang kita lakukan akan berakibat baik-buruk ke bumi kita. Sayangi bumi ini sebagaimana kita menyanyangi diri kita sendiri. Semua berpacu dengan waktu. 
Read More 0 comments | Posted by Unknown edit post

0 comments



Post a Comment

Do you mind if you write a little to share ^^

Newer Post Older Post Home

Color Paper

  • About
      About me. Edit this in the options panel.
  • It always being me

    Unknown
    View my complete profile

    7 Years Love`s saphirawings

    ``As you always worry, You say that foolish dreams are poisonous. Just like a book that tells us about the end of the world. There’s the reality that we can’t turn back already. Yes I have a dream. I believe in that dream. Please watch over me. Standing in front of that cold wall called fate. One day I will pass over that wall. And be able to fly. As high as the sky. This heavy thing called life can’t tie me down`` -Goose`s Dreamー

    Secarik Kertas

    • August (1)
    • July (2)
    • June (2)
    • April (2)
    • January (1)
    • November (1)
    • February (1)
    • January (2)
    • May (5)
    • April (3)
    • January (5)
    • December (5)
    • November (4)
    • October (6)
    • September (6)
    • August (1)
    • July (12)
    • June (6)
    • May (2)
    • April (8)
    Powered by Blogger.

    Followers

    Just a words~

    Selalu lakukan yang terbaik untuk satu atau semuanya, tapi bukan untuk selalu menjadi yang terbaik untuk satu atau semuanya.

  • Search






    • Home
    • Posts RSS
    • Comments RSS
    • Edit

    © Copyright 7 Years Love`s saphirawings. All rights reserved.
    Designed by FTL Wordpress Themes | Bloggerized by FalconHive.com
    brought to you by Smashing Magazine

    Back to Top